Draft 25 Mei 2016
Aku sengaja berangkat sekolah lebih awal.
sungguh lebih awal dari biasanya, pukul 05:50 aku turun bersama supir pribadi ayah dan pukul 06:00 aku tiba di gerbang sekolah melangkah manis menuju lorong kelasku dulu.
Seragam putih yang terkancing hingga leher serta rok abu abu dibawah dada dan ku kuncir poniku hingga seperti air mancur, memikul tas yang lumayan berat dan kaos kaki putih hingga lutut.
Penjaga sekolah sedikit heran melihat kedatanganku begitu pagi dan menuju lorong kelas yang bukan kelas ku.
"selamat pagi pak" sapaku sembari menyimpul senyum manis.
"pagi.. kok awal? mau ngapain? kan kelas nya disitu" sahut penjaga sekolah sambil menunjuk ke arah kelas disamping ruang guru.
aku kembali menyimpul senyum manis 1 jari, lantas meninggalkan percakapan kami di depan perpustakaan.
Tiba didepan kelas itu, aku merapatkan jemari-jemari tanganku dan meletakkan nya di di perut dengan mata memandang coretan indah di dinding samping pintu kelas tua itu.
Aku mengenang sedikit kejadian tahun yang berlalu, dimana aku berdiri tepat disini tertawa kecil bersama temanku sembari mengukir nama di dinding tua yang cat nya sudah pudar itu. Terlalu banyak cerita nakal saat remaja, lorong kelas itu menjadi saksi bisu indah nya kebersamaan dengan teman.
sungguh lebih awal dari biasanya, pukul 05:50 aku turun bersama supir pribadi ayah dan pukul 06:00 aku tiba di gerbang sekolah melangkah manis menuju lorong kelasku dulu.
Seragam putih yang terkancing hingga leher serta rok abu abu dibawah dada dan ku kuncir poniku hingga seperti air mancur, memikul tas yang lumayan berat dan kaos kaki putih hingga lutut.
Penjaga sekolah sedikit heran melihat kedatanganku begitu pagi dan menuju lorong kelas yang bukan kelas ku.
"selamat pagi pak" sapaku sembari menyimpul senyum manis.
"pagi.. kok awal? mau ngapain? kan kelas nya disitu" sahut penjaga sekolah sambil menunjuk ke arah kelas disamping ruang guru.
aku kembali menyimpul senyum manis 1 jari, lantas meninggalkan percakapan kami di depan perpustakaan.
Tiba didepan kelas itu, aku merapatkan jemari-jemari tanganku dan meletakkan nya di di perut dengan mata memandang coretan indah di dinding samping pintu kelas tua itu.
Aku mengenang sedikit kejadian tahun yang berlalu, dimana aku berdiri tepat disini tertawa kecil bersama temanku sembari mengukir nama di dinding tua yang cat nya sudah pudar itu. Terlalu banyak cerita nakal saat remaja, lorong kelas itu menjadi saksi bisu indah nya kebersamaan dengan teman.
Salah satu teman dengan gitarnya, salah satunya lagi dengan botol yang diisi bebijian dan satu lagi menepuk kursi sedangkan yang lain bernyanyi riang gembira.
Sungguh masa putih abu-abu itu menyenangkan!
Susah atau sukses didepan kian terbelakang, saat itu yang terlintas hanya uang jajan disaku.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan masa itu sebentar lagi usai, selanjutnya untuk meraih mimpi merajut asa, ternyata moment itu hanya akan menjadi kenangan kelak nanti.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan masa itu sebentar lagi usai, selanjutnya untuk meraih mimpi merajut asa, ternyata moment itu hanya akan menjadi kenangan kelak nanti.

Komentar