22:59

Di pinggiran jalan, hingar-bingar malam kota khatulistiwa langit penuh berjuta bintang, gedung gedung merapat tegap tersusun di sebrang jalan.
Nisbinya angin berembus sejuk menusuk membawa obsesiku tentang mu.
Suara gaduh kendaraan bermesin yang berlalu lalang tiada henti mengendus debu kota hingga malam semakin malam semakin gelap melengkapi suasana yang syahdu di warkop tepian jalan yang sudah hampir biasa kita jamui.
Dua kopi hitam yang kita pesan bersamaan tersaji manis di atas meja yang berduduk kan sepuluh orang .
Kau dan aku dengan masing masing secangkir kopi yng dibuat dan di antar oleh orang yang sama, kakak pengantar kopi yang ramah dan murah senyum itu.
Kau sedikit protes dengan cangkir mu yang tidak sesempurna cangkirku, ada sedikit retakan di muka cangkir itu, hahaha.. Protes mu membuatku gemas dan terniat ku untuk menukar cangkir kita agar kau bisa menikmati kopi mu dengan sempurna, namun niat ku itu ter-urung.
Antara kau dan kopi ku tercipta sedikit inspirasi .
Hitam nya secangkir kopi milik ku sehitam kedua bola matamu yng semakin tajam kutatap semakin tersimpan rindu, ada rasa manis nya di kopi ku seperti manis nya senyumu ketika di ganggu dalam keadaan sedang asik-asik nya memainkan game clash of clan game yang sedang mengahantui harimu
Aroma kopi ku masih kalah dengan aroma nafasmu yang sedikit ber-aromakan rokok
Dan sedikit terasa pahit di kopi ku sepahit hasrat ku yang hingga kini belum bisa berhenti mengagumi tapi tak ingin memilikimu.
Waktu menunjukan pukul 22:59 semakin malam suara kendaraan bermesin justru semakin bergemuruh hingga volume suara perbincangan kita satu meja sedikit harus di kencangkan. Ada aku, kau, dan mereka, tp aku lebih asyik dn sibuk dengan diriku sendiri yang sedang nikmat-nikmat nya memperhatikan mu diam diam. Kau tampak biasa saja berlaga cuek sepertinya asik dengan handphone mu hingga tak ingin berpaling pandang dngan nya.
Tiba tiba saja turun satu bocah kecil sebut saja diri nya pengamen jalanan yang menghampiri kami dan permisi untuk meminta izin menyanyi sedikit lagu, bocah itu menyanyikan lagu yang sudah tak lagi asing bagi kami
"pernah sekali.. Aku pergi dari jakarta ke surabaya.. Untuk menengok nenek disana mengendarai kereta malam juk..ijak..ijuk..ijak..ijukk.." seperti itulah kurang lebih lagu yang dinyanyikan bocah itu, ku lihat dirimu yang mungkin terbawa suasana sedikit bergoyang, menurun naikan bahu dengan kepala sedikit bergoyang. melihatmu.. Aku begitu bahagia tersimpul senyum kecil yang manis di bibir ku, lantas terbawa suasana aku pun ikut berjoget mengerak kan bahu sama spertimu, ku toleh kanan dan kiri, ternyata mereka  yang lain juga ikut berjoget, suasana pun semakin terlihat asyik.
Usai menghibur kami bocah kecil itu berlalu meninggalkn sedikit kebahagian untukku karna bocah itu aku telah melihat senyum nya yang begitu semakin manis.
Malam semakin malam, belum tergerak dari satu pun mereka untuk beranjak pulang, tak lama datang lagi satu bocah kecil, kali ini bocah ini tidak bisa di sebut sebagai pengamen jalanan, karna tak sepatah lirik pun yang bocah ini nyanyikan untuk kami, sebut saja bocah peminta-minta . Tiba tiba saja dia bilang "bang, ada uang lima ribu bang?" dia melanjutkan "aku sudah hafal, dengan anak ini" sembari tertawa kecil aku heran dan kembali tersimpul senyum manis di bibirku, Oh iya.. Dia senior disini. Tempat ini sudah lebih biasa lagi dia kunjungi sehingga bocah bocah tadi tidak asing baginya.
Ada kah akhir nya ? Tentu ada, malam semakin larut, kopi ku semakin sejuk kami pun beranjak untuk pulang.

Komentar

Postingan Populer